Khitoh Lulusan SMK

Kuliah dan/ kerja adalah dua pilihan yang harus dihadapi setelah melepas status sebagai siswa kelas XII, termasuk siswa kelas XII SMKN 1 Cerme Tahun Pelajaran 2018/2019. Dua pilihan tersebut – tentunya dengan mengesampingkan menikah sebagai alternatif – bisa berjalan beringingan, sendiri-sendiri, atau bahkan tidak keduanya (semoga tidak keduanya tak tercipta, Amiin).

            Ada anggapan siswa yang merasa dirinya pintar cenderung memilih kuliah sebagai langkah berikutnya. Lain halnya yang memilih bekerja, ada kecenderungan bahwa yang memilih jalur tersebut adalah yang kemampuannya biasa-biasa saja. Berbeda pula yang bersikap memilih kuliah sambil bekerja. Sungguh ini sebuah anggapan yang musti diluruskan di jenjang pendidikan mana mereka berada.

            SMK adalah salah satu pilihan jenjang pendidikan atas selain SMA/MA. Tujuan utama diselenggarakannya jenjang tersebut adalah untuk mencetak tenaga kerja yang handal sesuai dengan kompetensi keahlian yang ditekuninya. Pendidikan kejuruan dibangun dengan tujuan untuk membentuk tenaga kerja yang terampil, kompetitif dan berkompetensi sejak dini. Sehingga peserta didik lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sudah siap bekerja sesuai bidangnya.

            Selain itu, hampir semua visi sekolah kejuruan selalu terkait erat dengan dunia kerja. Contohnya visi SMK kita yang berbunyi “Mencetak Tenaga Kerja Menengah Profesional, cerdas, bermoral dan berdaya saing global.” Dari kalimat ringkas tersebut sangat jelas disebutkan bahwa SMKN 1 Cerme itu bertujuan mencetak tenaga kerja, bukan calon mahasiswa.

            Apa inti sari dari dua paragraf di atas? Itu artinya tidak ada yang salah jika siswa yang pandai di kelasnya memilih jalur langsung bekerja daripada harus kuliah. Anggapan siswa yang langsung memilih kerja itu kurang pandai berarti salah. Kenapa? Karena kalian ada siswa SMK, bukan SMA.

            Meski demikian, memang tidak ada yang salah ketika lulusan SMK berkehendak melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. Sangat tidak salah. Namun yang utama adalah tetap di jalurnya. Artinya, lulusan SMK seharusnya – kalau berminat kuliah – lebih mengutamakan melanjutkan pendidikan di politeknik (contoh PPNS) daripada memilih universitas. Kalaupun “terpaksa” memilih Universitas, maka setidaknya kampus yang berbasis “murni” atau biasa disebut teknik/nonkependidikan lebih diutamakan. Kenapa? Karena kalian adalah lulusan SMK.

            Lalu bagimana dengan yang memilih kuliah dan kerja. Tentu pilihan – yang pada praktiknya akan menjadi kerja disambi kuliah – ini tidaklah buruk. Justru pilihan ini sangatlah positif asalkan disertai dengan konsistensi yang lebih dari si pelaku. Hal tersebut dikarenakan pilihan ini membutuhkan tenaga, perhatian, komitmen, manajemen waktu, dan seabrek syarat lain agar bisa berjalan dengan beriringan dan hasilnya sama-sama positif.

            Penulis jadi teringat pesan Pak Bahrun – kini Dirjen PSMK – ketika membuka acara penyegaran instruktur pada 2017 yang lalu. Dalam sambutan ilmiahnya, beliau mengingatkan kita – para guru SMK – agar mengembalikan khitoh SMK dengan cara mengarahkan anak didiknya sebagai calon tenaga kerja menengah. Kalau pun berniat kuliah maka politeknik adalah wadahnya.

            Menjadi lulusan SMK tidaklah harus dihadapkan pada dilema pilihan jenjang berikutnya yang harus dijalani. Lulusan SMK seharusnya mengarah pada dunia usaha/kerja. Namun, jika dirasa ilmu yang diperoleh di jenjang menengah ini kurang cukup maka silakan dimantapkan dengan berkuliah, tentunya di kampus yang tepat.

            Sebentar lagi, status lulus SMK akan diperoleh AJ Lovers kelas XII. Jangan bingung memilih karena kalian lulusan SMK. Kalaupun sudah terlanjur salah pilih, pastilah ada hikmah dan dampak dibalik pilihan tersebut. (Aluk, 05/04)

(1) Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.